Postingan

Pilihan

aku mengumpat mengunci pintu rapat rapat menutup jendela dengan erat diamku membisu badan kaku seolah membeku tubuh tak bergerak seperti terikat kucingku melihat ditegurnya aku namun ku tak menjawab aku lakukan karna itu pilihan bukan takut karna keadaan semua perlu rencana agar tak menjadi bencana

Menjelang Fajar

Pepohonan riang menari Tertiup angin seraya awan terus berjalan Berselimut gemerlap lampu kota Lengkap beserta cahaya bulan purnama Rasa dingin menerpa Seiring dalam berkendara Menikmati hening jalan raya Tanpa kemacetan yang biasa melanda Terlihat warung kopi Langganan untuk menepi Penyelamat lapar kala malam Dengan sajian teh panas hangatkan badan Hampir tiap perempatan Lengang tanpa kepadatan Sorot jelas lampu merah tanda berhenti Sampai hijau menyapa tuk jalan kembali

Terlambat

ku mengira ikatan itu sudah kencang ku merasa tak seorang pun dapat membuka kecuali aku hanya saja aku lupa sekuat apa pun simpul yang ku buat lalu setebal apa pun tali pengikat pada akhirnya akan rapuh juga andai ku tak ceroboh ikatan itu tetap ada hingga kini dan juga tak kan ada cerita ini

Ajaib

muncul tanpa permisi  pergi sulit kembali maksud apa yang terkandung sampai membuat aku linglung entah bagaimana pola pikirnya sering membuat geleng kepala datang penuh gelak tawa seolah tak ada sedih terasa sangat menarik sampai orang tertarik tapi setelah itu cepat juga berlalu

Risau

hei tuan putri hampir tiap hari harapanku ingin tahu kabarmu sedang sibuk apa dirimu hanya saja aku ragu untuk menanyakan itu sebab aku tak mau dianggap mengganggu awal mula aku mengira ini rasa kagum yang aku punya semenjak jumpa pertama melihatmu tersenyum manja bibir merekah, pipi memerah kadang dua bola matamu hampir tertutup saat kau riang tertawa andai di analogikan bunga jadi pilihan tepat dalam menggambarkan dirimu kala tersenyum rasa ingin memetik, tangan enggan menggapai, mungkin belum saatnya aku mau kala kau ku petik, sudah ada pupuk serta vas bunga untukmu sehingga bisa setiap hari aku sirami dan aku pandangi aku tidak mungkin dusta ini tentu nyata memang dirimu bagus rupa wahai tuan putri penyerupa bunga yang cantik jelita

kapan merdeka?

Sedih ketika masih ada mereka Yang belum merasakan kemerdekaan Bertebaran pengangguran Masih banyak kejahatan Kemiskinan masih merajalela Ulah dari mereka yang punya kuasa Tak menengok kepada rakyat susah Hanya nikmati bahagia sendiri Apa ini tandanya Negara sudah merdeka? Yang katanya sejahtera  Tapi omong kosong belaka Mari bersama benahi Kekacauan dalam bumi pertiwi Yang nantinya merusaki Generasi negeri ini

Tahu tak ingin tahu

Hening malam Memanjakan ingatan Memberi kesan yang berarti pesan Penuh makna dibalik setiap cerita Isyarat begitu erat Membalut setiap kelut Menghiasi relung hati Tak henti mengisi tiap gerak dalam hari Kini kabar itu datang Meleburkan segala harapan Hancurkan secercah impian Menusuk hingga ke tulang rusak