Angkat Senjata

Aku seperti menembus dimensi ruang dan waktu
Hingga tiba dititik, dimana aku merasakan sensasi peperangan yang mengajarkan aku bagaimana cara bertahan lalu menyerang

Sebagai prajurit, aku memegang senjata yang tidak begitu canggih
Aku hanya memegang sebuah pistol dengan ukuran jarak tembak yang tak jauh
Tentu berbanding terbalik dengan lawan yang ku hadapi
Tapi aku tak risau akan hal itu, meski harus berlumuran darah, tetap aku hadapi

Baru tiba aku di medan tempur, genjatan senjata sudah langsung dimulai
Dengan raut wajah garang, seakan singa yang sedang kelaparan ditengah hutan
Menatapku tajam seraya maju perlahan, tampak akan menyerangku secara membabibuta

Diriku bak daging segar yang siap santap, habislah aku menjadi bulan bulanan
Material peluru berhamburan Dentuman pun begitu keras terdengar
Segala penjuru sangat siap menghabisiku
Aku hanya terpaku merunduk berhati-hati agar aku tidak mati sia sia dalam perjuanganku

Aku terdiam bukan berarti aku takut
Melainkan berfikir, lalu berdiri, dan siap melancarkan serangan balik
Sampai aku berjumpa momentum yang memberiku peluang untuk menyerang
Aku angkat senjata, aku arahkan ujung pistolku tepat ke hadapan musuh
Sampai pada akhirnya aku berhasil menyerang dengan menempelkan pistolku dikepala lawan

Kali ini berganti, aku yang mampu menawan lawanku
Aku membuatnya menyerah, membuatnya bertekuk lutut, hingga tak berdaya
Dan pada akhirnya, aku cukup memberinya pelajaran agar tidak semena mena
Karna lawan yang dia hadapi bukanlah prajurit amatir, melainkan inspirator tempur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilihan

Menjelang Fajar

Yakin