Dia yang Hidup

Kemarin dirinya baik-baik saja
Selalu ada senyum dibibirnya
Terlihat jelas kerut dipinggir mata
Hampir-hampir matanya tertutup saking girangnya dia tertawa
Aku berani utarakan ini sebab dengan jelas aku dapat melihat semuanya

Tak nampak kesedihan
Jangankan basah, lembab pun tidak
Pipinya begitu halus, tak ada bercak sisa airmata yang mengering
Enak sekali untuk diusap, lembut
Rasanya sulit bosan mencubit kecil pipinya

Hidungnya pun terlihat mengecil
Terhimpit oleh kedua pipi yang begitu gembul
Sedikit naik saat tertawa
Lekuk bibirnya juga terbentuk sempurna, seperti gambar yang pernah ku buat dikertas kosong kala itu

Kadang aku kesal melihatnya tertawa
Itu karena jemari yang suka menutup mulutnya saat tertawa
Padahal, sengaja ku buat nya tertawa sebab ingin ku lihat raut wajah serta perabotan mungilnya saat dirinya bahagia lepas

Hanya saja, sekarang, aku dengar kabar bahwa dirinya sedang tidak baik baik saja
Iya, katanya, saat ini hampir tiap malam pipinya basah
Lekuk ujung kanan kiri bibirnya tidak lagi ke atas, melainkan turun kebawah, alias cemberut

Aku kecewa, sangat
Kenapa bisa kabar ini ku dengar
Lebih lanjut lagi, kerut disisi matanya berubah menjadi kantung hitam pekat tepat dibawah bola matanya
Tanpa tertawa, kini matanya sudah terlihat kecil, efek dari airmata yang cenderung keluar secara terus menerus hampir tiap malam datangnya
Tentu ini menjadi rasa sakit yang cukup dalam untukku

Aku yang berusaha keras
Memaksimalkan segala yang bisa ku lakukan untuk menampakkan raut wajah ceria, senyumnya, sampai dirinya bisa tertawa lepas tanpa beban
Dirusak begitu saja
Tentu saja aku murka dengan hal ini

Perjalananku dalam membangun pondasi yang kuat demi terwujudnya bahagia baginya, terbilang tidak mudah
Dengan desakan waktu yang begitu singkat, aku bekerja keras bagaimana aku mampu memaksimalkan semuanya
Dari titik dimula aku dibenci, dicaci, dipandang sebelah mata, tak pernah ku masukan hati
Fokusku hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku bukan manusia yang tak bisa membuatnya bahagia

Dan kini, tentu bukan diam pilihanku
Mungkin sedikit perlawanan dalam mengembalikan semua yang sedari awal sudah ku bentuk
Ini ku lakoni karna setiap yang bernyawa berhak bahagia

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilihan

Menjelang Fajar

Yakin