Kopi tak Sepahit Coklat
Menjadi seorang lelaki haruslah pandai dalam memilih
Cakap menentukan langkah, arah, juga tujuan
Dan yang paling penting, berani mengakui sebuah kesalahan
Ya, sekarang aku mencoba menjadi lelaki
Sadarku kini sudah melakukan banyak kesalahan
Kesalahan ini membuatku mengerti untuk tidak menyentuh, bahkan sampai mengambil sesuatu yang memang menjadikan aku terlena
Aku tau, aku pahan, aku ini suka kopi
Kopi mampu membangkitkan imajinasiku
Mengundang kreatifitasku
Sering pula memancing inspirasiku
Sesekali juga kopi bisa menenangkanku saat aku sedang dalam kondisi yang tak karuan
Kafein kopi melebur bersama otak kananku sehingga dapat menuai berbagi reaksi di blogku ini
Namun entah mengapa, seketika aku terbuai dengan kilauan coklat yang persis aku lihat didepan mataku
Bentuknya sungguh menggoda, kemasannya yang begitu indah, sampai membiusku untuk segera tau bagaimana rasa dan nikmatnya ketika aku berhasil mengunyahnya
Terngiang selalu potensi rasa yang dimiliki coklat
begitu manis, begitu lembut, baik disantap ketika beku, atau pun saat meleleh bahkan cair
Bentuknya yang bervariasi, mengundang decak kagum
Sontak siapapun tak menolak bila disuguhkannya
Tak perlu waktu lama untuk aku bisa memiliki dan menikmati coklat itu
Sekejap coklat itu pun hinggap ditangku lalu secara otomatis menjadi milikku
Sayang sekali rasanya kalau aku harus membukanya, sampai aku memakannya
Bentuknya yang begitu indah, membuatku berfikir enggan untuk melahapnya
Tapi, sekali lagi, aku hanyalah lelaki, aku hanyalah manusia biasa, yang ketika diberikan sesuatu dengan iming-iming kepuasan, tak elok rasanya jika aku menolak
Sombong bila aku mengabaikannya
Akhirnya, perlahan ku yakinkan diri ini untuk segera mencicipinya
Ku buka bungkusnya dengan sangat hati-hati
Ini ku lakukan karna aku mau coklat itu tetap dalam bentuk yang sempurna
Ketika kubuka kemasannya
Mulai dari pucuk hingga ke dasar aku buka perlahan
Aku amati setiap lekukannya, aku manjakan mataku, sampai coklat itu terbuka seluruhnya
Sungguh menawan,
Kilau yang begitu menggoda dengan bentuk yang sedemikian rupa, membuatku terpana, kagum saat melihatnya
Digenggamanku sudah nampak kesempurnaan bentuk yang sempat membuatku penasaran
Selanjutnya, tinggal darimana aku mulai mencicipinya, ataskah? Atau ku lahap saja dari bawah?
Berhubung tanganku menggenggamnya dari bawah, maka aku putuskan untuk mulai menggigitnya secara perlahan dari atas
Ketika pertama kali tersentuh olehku, aroma santer khas coklat dengan bayangan manis begitu terasa
Imajinasiku semakin menjadi-jadi
Rangsangan aroma yang begitu kental mendorongku untuk segera melahapnya
Krek!!!
Patahan coklat berhasil kugigit
Namun, keanehan mulai kurasa
Tapi kepercayaanku masih terlalu tinggi guna mengatakan ada yang aneh dengan rasa coklat ini
Semakin penasaran, ku kunyahlah coklat itu secara perlahan
Seketika bayanganku yang menganggap coklat itu manis dan lezat, hancur dengan cepat
Aku merasakan rasa yang berbanding terbalik dengan harapanku
Bukan manis yang kudapat, melainkan rasa pahit yang begitu kental,
Kesal, kecewa, dibarengi dengan rasa amarah
Anggapanku, coklat dengan aroma yang begitu menggoda adalah sesuatu yang nikmat dilengkapi rasa manis, oh sungguh lezat
Dan itu adalah sebuah kesalahan besar
Disini aku sadar, bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar
Aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu
Penilaian yang begitu dini telah ku lakukan
Aku memandang hanya sekejap namun begitu dalam aku menilai
Ternyata pahitnya kopi jauh begitu nikmat ketimbang bayangan manis dari sebuah coklat
Maafkan aku, kopi
Aku begitu tega menyingkirkanmu demi sebuah coklat yang berhasil menipuku
Coklat berhasil memikatku dan mengendalikanku
Tapi sekarang aku sadar akan tipuan itu, manisnya yang palsu, karna aku telah merasakan pahit yang begitu kental, bukan lagi sekedar mencicip, tapi sudah sampai pada tahap melahap
Terimakasih coklat, kau berhasil hancurkan seleraku dan kenikmatanku bersama kopi selama ini
Cakap menentukan langkah, arah, juga tujuan
Dan yang paling penting, berani mengakui sebuah kesalahan
Ya, sekarang aku mencoba menjadi lelaki
Sadarku kini sudah melakukan banyak kesalahan
Kesalahan ini membuatku mengerti untuk tidak menyentuh, bahkan sampai mengambil sesuatu yang memang menjadikan aku terlena
Aku tau, aku pahan, aku ini suka kopi
Kopi mampu membangkitkan imajinasiku
Mengundang kreatifitasku
Sering pula memancing inspirasiku
Sesekali juga kopi bisa menenangkanku saat aku sedang dalam kondisi yang tak karuan
Kafein kopi melebur bersama otak kananku sehingga dapat menuai berbagi reaksi di blogku ini
Namun entah mengapa, seketika aku terbuai dengan kilauan coklat yang persis aku lihat didepan mataku
Bentuknya sungguh menggoda, kemasannya yang begitu indah, sampai membiusku untuk segera tau bagaimana rasa dan nikmatnya ketika aku berhasil mengunyahnya
Terngiang selalu potensi rasa yang dimiliki coklat
begitu manis, begitu lembut, baik disantap ketika beku, atau pun saat meleleh bahkan cair
Bentuknya yang bervariasi, mengundang decak kagum
Sontak siapapun tak menolak bila disuguhkannya
Tak perlu waktu lama untuk aku bisa memiliki dan menikmati coklat itu
Sekejap coklat itu pun hinggap ditangku lalu secara otomatis menjadi milikku
Sayang sekali rasanya kalau aku harus membukanya, sampai aku memakannya
Bentuknya yang begitu indah, membuatku berfikir enggan untuk melahapnya
Tapi, sekali lagi, aku hanyalah lelaki, aku hanyalah manusia biasa, yang ketika diberikan sesuatu dengan iming-iming kepuasan, tak elok rasanya jika aku menolak
Sombong bila aku mengabaikannya
Akhirnya, perlahan ku yakinkan diri ini untuk segera mencicipinya
Ku buka bungkusnya dengan sangat hati-hati
Ini ku lakukan karna aku mau coklat itu tetap dalam bentuk yang sempurna
Ketika kubuka kemasannya
Mulai dari pucuk hingga ke dasar aku buka perlahan
Aku amati setiap lekukannya, aku manjakan mataku, sampai coklat itu terbuka seluruhnya
Sungguh menawan,
Kilau yang begitu menggoda dengan bentuk yang sedemikian rupa, membuatku terpana, kagum saat melihatnya
Digenggamanku sudah nampak kesempurnaan bentuk yang sempat membuatku penasaran
Selanjutnya, tinggal darimana aku mulai mencicipinya, ataskah? Atau ku lahap saja dari bawah?
Berhubung tanganku menggenggamnya dari bawah, maka aku putuskan untuk mulai menggigitnya secara perlahan dari atas
Ketika pertama kali tersentuh olehku, aroma santer khas coklat dengan bayangan manis begitu terasa
Imajinasiku semakin menjadi-jadi
Rangsangan aroma yang begitu kental mendorongku untuk segera melahapnya
Krek!!!
Patahan coklat berhasil kugigit
Namun, keanehan mulai kurasa
Tapi kepercayaanku masih terlalu tinggi guna mengatakan ada yang aneh dengan rasa coklat ini
Semakin penasaran, ku kunyahlah coklat itu secara perlahan
Seketika bayanganku yang menganggap coklat itu manis dan lezat, hancur dengan cepat
Aku merasakan rasa yang berbanding terbalik dengan harapanku
Bukan manis yang kudapat, melainkan rasa pahit yang begitu kental,
Kesal, kecewa, dibarengi dengan rasa amarah
Anggapanku, coklat dengan aroma yang begitu menggoda adalah sesuatu yang nikmat dilengkapi rasa manis, oh sungguh lezat
Dan itu adalah sebuah kesalahan besar
Disini aku sadar, bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan besar
Aku terlalu cepat menyimpulkan sesuatu
Penilaian yang begitu dini telah ku lakukan
Aku memandang hanya sekejap namun begitu dalam aku menilai
Ternyata pahitnya kopi jauh begitu nikmat ketimbang bayangan manis dari sebuah coklat
Maafkan aku, kopi
Aku begitu tega menyingkirkanmu demi sebuah coklat yang berhasil menipuku
Coklat berhasil memikatku dan mengendalikanku
Tapi sekarang aku sadar akan tipuan itu, manisnya yang palsu, karna aku telah merasakan pahit yang begitu kental, bukan lagi sekedar mencicip, tapi sudah sampai pada tahap melahap
Terimakasih coklat, kau berhasil hancurkan seleraku dan kenikmatanku bersama kopi selama ini
Komentar
Posting Komentar